Berikut adalah deskripsi struktural mengenai sejarah Gampong Pasar Kota Bakti berdasarkan situs resminya:
1. Transformasi Identitas dari Lameulo ke Kota Bakti
Sebelum menggunakan nama Pasar Kota Bakti, kawasan ini secara historis dikenal meluas oleh masyarakat Aceh sebagai Lameulo atau Lamlo. Kawasan gampong ini tumbuh di sekitar pasar tradisional pedalaman yang menjadi titik temu para pedagang dari wilayah pegunungan (seperti Tangse dan Geumpang) dengan wilayah pesisir Pidie. Seiring penataan administrasi pasca-kemerdekaan, nama Lameulo disesuaikan menjadi Kota Bakti, dan wilayah pasarnya dikukuhkan secara hukum sebagai Gampong Pasar Kota Bakti.
2. Eks-Pusat Pemerintahan Kewedanaan
Nilai sejarah paling menonjol dari Gampong Pasar Kota Bakti adalah statusnya yang pernah menjadi Pusat Kewedanaan. Kewedanaan merupakan wilayah administrasi masa lalu di Indonesia yang membawahi beberapa kecamatan.
3. Jantung Infrastruktur Kolonial dan Pasca-Kemerdekaan
Karena posisinya yang sangat strategis di jalur perlintasan Beureunuen–Tangse, gampong ini dipilih sebagai lokasi pembangunan berbagai infrastruktur penting sejak era kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan. Di dalam klaster wilayah Gampong Pasar Kota Bakti dan sekitarnya, terdapat jejak fisik yang khas, seperti:
4. Perkembangan Fasilitas Publik Modern
Seiring waktu berjalan dan dibubarkannya sistem kewedanaan, Gampong Pasar beralih fungsi sepenuhnya menjadi pusat kegiatan Kecamatan Sakti. Tata ruang gampong ini sengaja didesain memanjang di sepanjang jalur utama menuju Tangse. Di sepanjang koridor Gampong Pasar ini, didirikan pusat pelayanan terpadu masyarakat, meliputi:
Saat ini, di bawah kepemimpinan lokal (Geusyik), Gampong Pasar Kota Bakti terus bertransisi menjadi desa mandiri yang memfokuskan pembangunannya pada sektor perdagangan, peningkatan jalan usaha tani, serta integrasi pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman